Rabu, 24 Agustus 2011

A Life Planner

Aku seorang perencana. Perencana yang cukup baik. Gak banyak yang tau, memang. Bahkan gak banyak yang percaya. Aku selalu punya rencana mengenai hal-hal yang bakal aku lakuin selama sehari atau beberapa hari ke depan. Mungkin gak selalu ku tulis pada lembaran kertas catatan atau sticky notes di laptop atau dalam handphone. Tapi setidaknya aku menyusunnya dengan baik, mendekati sempurna mungkin, dalam otak.

Gimanapun semua gak selalu berjalan sesuai rencana yang kubuat. Bahkan terlalu sering berada di luar dugaan, di luar kendaliku.

Seperti pagi itu. Selasa, 26 Juli 2011.
Rencana(s) of mine: 1. Bangun pagi, mandi, ngucek with rinso cair—2. Sarapan (mungkin buryam ato burjo) at burjo aa’ aril—3. Keluar kota, ktemu temen”, pergi makrab—4. Menghandle stiap acara dengan luarbiasa—5. Balik kosan, kembali kerja dengan hati ceria.

Tapi Si Boss Besar ternyata juga punya rencana buatku hari itu.

Rencana(s) of Big Boss’: 1. Bangun kesiangan, mandi, gak sempet nyuci—2. Sarapan buryam (buru” dan gak nyaman)—3. Keluar kota, nabrak orang bego gak tau aturan—4. Nongkrong di pos polisi lama banget, ditinggal rombongan makrab—5. Bagian kerjaku selalu diambil alih si setan makrab, balik kos dan kerja dengan kaki penuh luka.

Belom lagi aku terlihat begitu konyol, saat temen2ku tau aku tabrakan (lagi). Dan aku menebak dengan sangat tepat, mereka akan bertanya “kok bisaaaa??” atau “gimana critanya??”, agak lebih parah lagi kalo pertanyaannya “tabrakan lagi??”. Terus aku bakalan cerita sesingkat mungkin atau berusaha menghindari pertanyaan semacam itu. Apalagi kalo setelah aku cerita tanggapannya akan seperti “tabrakan kok hobi” atau “ritual mulu sih” atau “kalo aku sih pasti udah jual itu motor. Lagian udah keseringan jatoh, bawa sial”. Kenapa juga nyalahin motorku?! Aku gak percaya kesialan, sebagai info.

Tapi bukan itu intinya.

Intinya, hidupku ternyata terlalu dekat dengan kematian. Intinya, gimana kalo aku masih harus mengalami itu sekali lagi. Dan saat itu aku gak selamat?

Masihkah itu terdengar konyol dan layak untuk ditertawakan? Mungkin saat itu aku udah gak peduli lagi. Oh silahkan tertawa membaca tulisan ini. Karna mungkin kalian belom merasakan saat harus berhadapan dengan kematian. Ngeri ngebayanginnya. Aku bahkan gak tau apa yang bakal terjadi setelah melangkah 1 meter ke depan lalu 1 meter setelahnya. Tapi nyatanya aku harus selalu siap dengan itu. Kayak film Final Destination, aku seperti pemeran dalam film itu yang sedang menunggu giliran.

Tau? Aku gak setuju sama ungkapan “manusia merencanakan, Tuhan menentukan”. Bullsh*t!

Punya kuasa apa manusia, sampai-sampai berhak bikin rencana akan kehidupannya sendiri? Kalo bukan karna Tuhan yang baik ngasih kewenangan itu, pasti saat ini gak akan ada orang yang sombong dan sok berkuasa akan kehidupannya, bahkan kehidupan orang lain. Aku percaya bahwa sebenernya Tuhan udah lebih dulu bikin rencana buat kehidupan semua manusia. Membiarkan manusia mengatur hidupnya adalah kehendak-Nya. Hanya saja, dua rencana antara Tuhan dan manusia sering kali bertabrakan.

Aku perencana yang cukup baik. Udah kukatakan di awal tadi. Aku akan terus membuat rencana untuk hidupku ke depan. “biarkan semuanya mengalir” bukanlah ungkapan yang salah. Karna bahkan aliran itu pun membutuhkan suatu perencanaan. Akankah mengalir ke muara atau hilir yang lain.

Akan sangat menyenangkan saat rencanaku match dengan-Nya. Seperti
Aku: rencanaku beso adalah punya pacar baru!
Tuhan: pas banget sama planningku lho.
Aku: masa sih?
Tuhan: yoi cuy.
Aku+Tuhan: *toss*
Hahaha. Mulai ngelantur deh. Siapa juga yang mau denger rencanaku buat punya pacar baru, anyhow?! Tapi gak ada salahnya juga aku punya rencana kayak gitu. Ya gak? Hahaha. Rencana terbaikku saat ini adalah menikmati serta mensyukuri berkat tiap hari dan membeli beberapa barang yang aku butuhin. Ingat, yang kubutuhin! Aku bukan hedonist. Tak separah itu. Yeah.

The last, rencana bukanlah hal-hal yang harus terjadi dalam kehidupan kita. Rencana adalah cara untuk mengatur dan menata kehidupan kita. Rencana adalah apa yang kita pikir baik bila terjadi dalam hidup kita, dan bukan sesuatu yang terasa jahat untuk orang lain.

Make your best life planning, but let God take the wheel.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar