kau tidak butuh keraguan untuk kita pertentangkan dari hari ke hari.
yang kau butuh hanya aku dan semua yang ada padaku.
segala lebih dan kurangku, baik dan burukku.
bukan lainnya.
kalau pun benar aku belum bisa melepaskan ingatan akan dia, bukan berarti aku berusaha menghadirkan dia di tengah kita.
kalau pun aku punya ribuan akun dan dia ada di sana, itu tidak akan mengubah apapun antara aku dan dia.
karna aku dan dia sudah selesai menuliskan cerita konyol yang tak sempurna.
biarlah tentang dia menjadi cerita dibalik cerita kita.
karna jika dia tidak datang dan pergi dalam hidupku, maka kau pun demikian.
kau ada karna dia memilih untuk menghilang.
Ich liebe Dich, Ken :*
Senin, 12 Desember 2011
Jumat, 11 November 2011
Berakhir Tanpa Kata
menangisimu sekaligus mengumpatimu adalah hal yang paling ingin ku lakuin saat ini. harusnya aku yang paling siap akan hal ini, tapi bahkan kita berdua tidak cukup siap.
saat kebodohan dilakukan oleh dua orang, maka bukan sesuatu yang salah jika seseorang yang paling benar hadir untuk meluruskan jalan kita.
jalan yang kita pikir terlalu benar, tampak terlalu salah saat ini.
di saat banyak hal yang sudah kurencanakan untuk kita, kau sudah lebih dulu merencanakan hal yang jauh tak terduga.
kau mungkin tak ingin menjadi dominan, tak juga resesif. tak ingin diutamakan, juga diasingkan.
tak ingin melekat dalam ingatan, tak ingin juga dilupakan.
semoga kita dipertemukan lagi pada situasi yang jauh lebih baik dari saat ini, saat kita tidak lagi bodoh akan perasaan dan dewasa dalam pemikiran.
teruntuk seorang* yang terlalu cepat datang dan pergi, *zeecrezthyarieabilang
saat kebodohan dilakukan oleh dua orang, maka bukan sesuatu yang salah jika seseorang yang paling benar hadir untuk meluruskan jalan kita.
jalan yang kita pikir terlalu benar, tampak terlalu salah saat ini.
di saat banyak hal yang sudah kurencanakan untuk kita, kau sudah lebih dulu merencanakan hal yang jauh tak terduga.
kau mungkin tak ingin menjadi dominan, tak juga resesif. tak ingin diutamakan, juga diasingkan.
tak ingin melekat dalam ingatan, tak ingin juga dilupakan.
semoga kita dipertemukan lagi pada situasi yang jauh lebih baik dari saat ini, saat kita tidak lagi bodoh akan perasaan dan dewasa dalam pemikiran.
teruntuk seorang* yang terlalu cepat datang dan pergi, *zeecrezthyarieabilang
Selasa, 08 November 2011
Kita dan Cinta
satu bulan dan aku bertahan terhadap pola hidup kita yang berbeda, terhadap pola pikir kita yang berseberangan, terhadap hatimu dan hatiku.
dan bertanya sudah cukup dewasakah kita akan perasaan. ataukah hanya ego yang menuntun kita terlampau jauh menepis waktu dan rindu.
bukan suatu yang salah memberimu kepercayaan dan juga menerima semua tuduhan dari orang2. tapi mampukah kau yakinkan aku untuk tetap tinggal atau akankah kau biarkan aku hanya menjadi bagian terkecil dari ingatanmu.
tutuplah telinga saat orang2 mencoba berteriak untuk menjatuhkan kita. tutuplah mata saat kita berada pada 2 titik yang sangat jauh terpisah. agar kau bisa melihatku dekat dengan cara yang mustahil. dengan hatimu.
dan bertanya sudah cukup dewasakah kita akan perasaan. ataukah hanya ego yang menuntun kita terlampau jauh menepis waktu dan rindu.
bukan suatu yang salah memberimu kepercayaan dan juga menerima semua tuduhan dari orang2. tapi mampukah kau yakinkan aku untuk tetap tinggal atau akankah kau biarkan aku hanya menjadi bagian terkecil dari ingatanmu.
tutuplah telinga saat orang2 mencoba berteriak untuk menjatuhkan kita. tutuplah mata saat kita berada pada 2 titik yang sangat jauh terpisah. agar kau bisa melihatku dekat dengan cara yang mustahil. dengan hatimu.
Senin, 31 Oktober 2011
New ( Page of ) Love!
Aku memulai sesuatu yang, entah terlalu salah atau terlalu benar.
Aku tau sudah banyak hati yang tersakiti. Banyak yang mulai membenci. Mulai tidak peduli. Demikian juga aku terhadapnya. Sosok yang terlampau sering kugambarkan dalam bayang bayang kesempurnaan dunia. Nyatanya sia sia yang aku dapat darinya. Sebenarnya sudah jauh kuduga, dia hanya fiksi. Tidak menawarkan kasih yang nyata.
Lalu,
Seseorang datang. Membawa terlalu banyak cinta yang ku tau akan binasa. Dan mencoba memulai lagi sesuatu yang saat ini hanya terlihat terlalu benar. Hanya aku dan dia, bukan dia yang lain ataupun dia yang sebelumnya menjadi mitos.
Terimakasih yang telah pergi.
Terimakasih yang telah datang.
Terimakasih yang telah mendatangkan dan membawa pergi sosok sosok itu bagiku.
P.S.: happy for having u, zee* :)
*although it's not 4ever, i'll try!
Aku tau sudah banyak hati yang tersakiti. Banyak yang mulai membenci. Mulai tidak peduli. Demikian juga aku terhadapnya. Sosok yang terlampau sering kugambarkan dalam bayang bayang kesempurnaan dunia. Nyatanya sia sia yang aku dapat darinya. Sebenarnya sudah jauh kuduga, dia hanya fiksi. Tidak menawarkan kasih yang nyata.
Lalu,
Seseorang datang. Membawa terlalu banyak cinta yang ku tau akan binasa. Dan mencoba memulai lagi sesuatu yang saat ini hanya terlihat terlalu benar. Hanya aku dan dia, bukan dia yang lain ataupun dia yang sebelumnya menjadi mitos.
Terimakasih yang telah pergi.
Terimakasih yang telah datang.
Terimakasih yang telah mendatangkan dan membawa pergi sosok sosok itu bagiku.
P.S.: happy for having u, zee* :)
*although it's not 4ever, i'll try!
Selasa, 27 September 2011
My 13 Days
Day #1 - 15 September
Dan kamu selalu saja melewatkan waktu yang singkat itu untuk bisa menyapaku dengan baik.
Day #2 - 16 September
Sekali lagi kamu membuang kesempatan bertemu denganku dan aku berusaha untuk tidak menjadi egois.
Day #3 - 17 September
Aku sangat berharap bisa menggapaimu dalam dunia maya, tapi masih terlalu sulit menembus batasan dan kaidah yang sudah dulu ada di sana.
Day #4 - 18 September
Terlewat begitu saja tanpa kamu.
Day #5 - 19 September
Dear Timeline: Terima kasih sudah menghadirkan dia walo hanya sekelebat, sekaligus menghadirkan ‘dia’ yang sudah tidak mungkin dia harapkan ada.
Day #6 - 20 September
Bagaimana kalau aku benar benar sedang dalam proses melupakanmu atau mungkin proses lebih mencintaimu?
Day #7 - 21 September
Jangan menjadi kutub selatan kalau aku juga menginginkan hal yang sama, membuat kita tak mungkin bertemu.
Day #8 - 22 September
Di saat seharusnya kamu tertawa bersamaku dan teman temanku, kamu lebih memilih mencurangiku dan tertawa bersama putri gadgetmu yang tidak lebih banyak terluka untuk bisa dekat denganmu.
Day #9 - 23 September
2-3-4 atau 91 hari ke depan menjadi sama, menjadi luar biasa, menjadi tidak ada apa apa pun sudah sangat siap aku hadapi, kemungkinan dan ketidakmungkinan atas kita.
Day #10 – 24 September
Seperti aku menyadari adanya kebenaran yang samar samar masih kau sembunyikan dan aku tahu, siap, dan terlalu kuat untuk menghadapinya.
Day #11 – 25 September
Nyatanya aku memang tidak butuh 100 hari untuk lebih mencintaimu, cukup 10 hari saja dan berakhir sudah proses melupakanmu.
Day#12 – 26 September
Bohong kalau aku bilang sudah melupakanmu, karna masih terbersit harapan dimana 10 hari yang akan datang aku ingin untuk bisa menyadari bahwa kamu belum benar benar pergi.
Dan terimakasih sudah menghadirkan senyum di Desemberku, menghadirkan tawa di Januariku, bahagia di Februariku, kehangatan di Maretku, cinta di April-Mei-Juniku, kerinduan di Juli-Agustusku, dan kenyataan perasaan di Septemberku.
Dan saat ini….
Day#13 – 27 September
Aku. Kamu. Independen!
Dan kamu selalu saja melewatkan waktu yang singkat itu untuk bisa menyapaku dengan baik.
Day #2 - 16 September
Sekali lagi kamu membuang kesempatan bertemu denganku dan aku berusaha untuk tidak menjadi egois.
Day #3 - 17 September
Aku sangat berharap bisa menggapaimu dalam dunia maya, tapi masih terlalu sulit menembus batasan dan kaidah yang sudah dulu ada di sana.
Day #4 - 18 September
Terlewat begitu saja tanpa kamu.
Day #5 - 19 September
Dear Timeline: Terima kasih sudah menghadirkan dia walo hanya sekelebat, sekaligus menghadirkan ‘dia’ yang sudah tidak mungkin dia harapkan ada.
Day #6 - 20 September
Bagaimana kalau aku benar benar sedang dalam proses melupakanmu atau mungkin proses lebih mencintaimu?
Day #7 - 21 September
Jangan menjadi kutub selatan kalau aku juga menginginkan hal yang sama, membuat kita tak mungkin bertemu.
Day #8 - 22 September
Di saat seharusnya kamu tertawa bersamaku dan teman temanku, kamu lebih memilih mencurangiku dan tertawa bersama putri gadgetmu yang tidak lebih banyak terluka untuk bisa dekat denganmu.
Day #9 - 23 September
2-3-4 atau 91 hari ke depan menjadi sama, menjadi luar biasa, menjadi tidak ada apa apa pun sudah sangat siap aku hadapi, kemungkinan dan ketidakmungkinan atas kita.
Day #10 – 24 September
Seperti aku menyadari adanya kebenaran yang samar samar masih kau sembunyikan dan aku tahu, siap, dan terlalu kuat untuk menghadapinya.
Day #11 – 25 September
Nyatanya aku memang tidak butuh 100 hari untuk lebih mencintaimu, cukup 10 hari saja dan berakhir sudah proses melupakanmu.
Day#12 – 26 September
Bohong kalau aku bilang sudah melupakanmu, karna masih terbersit harapan dimana 10 hari yang akan datang aku ingin untuk bisa menyadari bahwa kamu belum benar benar pergi.
Dan terimakasih sudah menghadirkan senyum di Desemberku, menghadirkan tawa di Januariku, bahagia di Februariku, kehangatan di Maretku, cinta di April-Mei-Juniku, kerinduan di Juli-Agustusku, dan kenyataan perasaan di Septemberku.
Dan saat ini….
Day#13 – 27 September
Aku. Kamu. Independen!
Jumat, 23 September 2011
Rabu, 24 Agustus 2011
A Life Planner
Aku seorang perencana. Perencana yang cukup baik. Gak banyak yang tau, memang. Bahkan gak banyak yang percaya. Aku selalu punya rencana mengenai hal-hal yang bakal aku lakuin selama sehari atau beberapa hari ke depan. Mungkin gak selalu ku tulis pada lembaran kertas catatan atau sticky notes di laptop atau dalam handphone. Tapi setidaknya aku menyusunnya dengan baik, mendekati sempurna mungkin, dalam otak.
Gimanapun semua gak selalu berjalan sesuai rencana yang kubuat. Bahkan terlalu sering berada di luar dugaan, di luar kendaliku.
Seperti pagi itu. Selasa, 26 Juli 2011.
Rencana(s) of mine: 1. Bangun pagi, mandi, ngucek with rinso cair—2. Sarapan (mungkin buryam ato burjo) at burjo aa’ aril—3. Keluar kota, ktemu temen”, pergi makrab—4. Menghandle stiap acara dengan luarbiasa—5. Balik kosan, kembali kerja dengan hati ceria.
Tapi Si Boss Besar ternyata juga punya rencana buatku hari itu.
Rencana(s) of Big Boss’: 1. Bangun kesiangan, mandi, gak sempet nyuci—2. Sarapan buryam (buru” dan gak nyaman)—3. Keluar kota, nabrak orang bego gak tau aturan—4. Nongkrong di pos polisi lama banget, ditinggal rombongan makrab—5. Bagian kerjaku selalu diambil alih si setan makrab, balik kos dan kerja dengan kaki penuh luka.
Belom lagi aku terlihat begitu konyol, saat temen2ku tau aku tabrakan (lagi). Dan aku menebak dengan sangat tepat, mereka akan bertanya “kok bisaaaa??” atau “gimana critanya??”, agak lebih parah lagi kalo pertanyaannya “tabrakan lagi??”. Terus aku bakalan cerita sesingkat mungkin atau berusaha menghindari pertanyaan semacam itu. Apalagi kalo setelah aku cerita tanggapannya akan seperti “tabrakan kok hobi” atau “ritual mulu sih” atau “kalo aku sih pasti udah jual itu motor. Lagian udah keseringan jatoh, bawa sial”. Kenapa juga nyalahin motorku?! Aku gak percaya kesialan, sebagai info.
Tapi bukan itu intinya.
Intinya, hidupku ternyata terlalu dekat dengan kematian. Intinya, gimana kalo aku masih harus mengalami itu sekali lagi. Dan saat itu aku gak selamat?
Masihkah itu terdengar konyol dan layak untuk ditertawakan? Mungkin saat itu aku udah gak peduli lagi. Oh silahkan tertawa membaca tulisan ini. Karna mungkin kalian belom merasakan saat harus berhadapan dengan kematian. Ngeri ngebayanginnya. Aku bahkan gak tau apa yang bakal terjadi setelah melangkah 1 meter ke depan lalu 1 meter setelahnya. Tapi nyatanya aku harus selalu siap dengan itu. Kayak film Final Destination, aku seperti pemeran dalam film itu yang sedang menunggu giliran.
Tau? Aku gak setuju sama ungkapan “manusia merencanakan, Tuhan menentukan”. Bullsh*t!
Punya kuasa apa manusia, sampai-sampai berhak bikin rencana akan kehidupannya sendiri? Kalo bukan karna Tuhan yang baik ngasih kewenangan itu, pasti saat ini gak akan ada orang yang sombong dan sok berkuasa akan kehidupannya, bahkan kehidupan orang lain. Aku percaya bahwa sebenernya Tuhan udah lebih dulu bikin rencana buat kehidupan semua manusia. Membiarkan manusia mengatur hidupnya adalah kehendak-Nya. Hanya saja, dua rencana antara Tuhan dan manusia sering kali bertabrakan.
Aku perencana yang cukup baik. Udah kukatakan di awal tadi. Aku akan terus membuat rencana untuk hidupku ke depan. “biarkan semuanya mengalir” bukanlah ungkapan yang salah. Karna bahkan aliran itu pun membutuhkan suatu perencanaan. Akankah mengalir ke muara atau hilir yang lain.
Akan sangat menyenangkan saat rencanaku match dengan-Nya. Seperti
Aku: rencanaku beso adalah punya pacar baru!
Tuhan: pas banget sama planningku lho.
Aku: masa sih?
Tuhan: yoi cuy.
Aku+Tuhan: *toss*
Hahaha. Mulai ngelantur deh. Siapa juga yang mau denger rencanaku buat punya pacar baru, anyhow?! Tapi gak ada salahnya juga aku punya rencana kayak gitu. Ya gak? Hahaha. Rencana terbaikku saat ini adalah menikmati serta mensyukuri berkat tiap hari dan membeli beberapa barang yang aku butuhin. Ingat, yang kubutuhin! Aku bukan hedonist. Tak separah itu. Yeah.
The last, rencana bukanlah hal-hal yang harus terjadi dalam kehidupan kita. Rencana adalah cara untuk mengatur dan menata kehidupan kita. Rencana adalah apa yang kita pikir baik bila terjadi dalam hidup kita, dan bukan sesuatu yang terasa jahat untuk orang lain.
Make your best life planning, but let God take the wheel.
Gimanapun semua gak selalu berjalan sesuai rencana yang kubuat. Bahkan terlalu sering berada di luar dugaan, di luar kendaliku.
Seperti pagi itu. Selasa, 26 Juli 2011.
Rencana(s) of mine: 1. Bangun pagi, mandi, ngucek with rinso cair—2. Sarapan (mungkin buryam ato burjo) at burjo aa’ aril—3. Keluar kota, ktemu temen”, pergi makrab—4. Menghandle stiap acara dengan luarbiasa—5. Balik kosan, kembali kerja dengan hati ceria.
Tapi Si Boss Besar ternyata juga punya rencana buatku hari itu.
Rencana(s) of Big Boss’: 1. Bangun kesiangan, mandi, gak sempet nyuci—2. Sarapan buryam (buru” dan gak nyaman)—3. Keluar kota, nabrak orang bego gak tau aturan—4. Nongkrong di pos polisi lama banget, ditinggal rombongan makrab—5. Bagian kerjaku selalu diambil alih si setan makrab, balik kos dan kerja dengan kaki penuh luka.
Belom lagi aku terlihat begitu konyol, saat temen2ku tau aku tabrakan (lagi). Dan aku menebak dengan sangat tepat, mereka akan bertanya “kok bisaaaa??” atau “gimana critanya??”, agak lebih parah lagi kalo pertanyaannya “tabrakan lagi??”. Terus aku bakalan cerita sesingkat mungkin atau berusaha menghindari pertanyaan semacam itu. Apalagi kalo setelah aku cerita tanggapannya akan seperti “tabrakan kok hobi” atau “ritual mulu sih” atau “kalo aku sih pasti udah jual itu motor. Lagian udah keseringan jatoh, bawa sial”. Kenapa juga nyalahin motorku?! Aku gak percaya kesialan, sebagai info.
Tapi bukan itu intinya.
Intinya, hidupku ternyata terlalu dekat dengan kematian. Intinya, gimana kalo aku masih harus mengalami itu sekali lagi. Dan saat itu aku gak selamat?
Masihkah itu terdengar konyol dan layak untuk ditertawakan? Mungkin saat itu aku udah gak peduli lagi. Oh silahkan tertawa membaca tulisan ini. Karna mungkin kalian belom merasakan saat harus berhadapan dengan kematian. Ngeri ngebayanginnya. Aku bahkan gak tau apa yang bakal terjadi setelah melangkah 1 meter ke depan lalu 1 meter setelahnya. Tapi nyatanya aku harus selalu siap dengan itu. Kayak film Final Destination, aku seperti pemeran dalam film itu yang sedang menunggu giliran.
Tau? Aku gak setuju sama ungkapan “manusia merencanakan, Tuhan menentukan”. Bullsh*t!
Punya kuasa apa manusia, sampai-sampai berhak bikin rencana akan kehidupannya sendiri? Kalo bukan karna Tuhan yang baik ngasih kewenangan itu, pasti saat ini gak akan ada orang yang sombong dan sok berkuasa akan kehidupannya, bahkan kehidupan orang lain. Aku percaya bahwa sebenernya Tuhan udah lebih dulu bikin rencana buat kehidupan semua manusia. Membiarkan manusia mengatur hidupnya adalah kehendak-Nya. Hanya saja, dua rencana antara Tuhan dan manusia sering kali bertabrakan.
Aku perencana yang cukup baik. Udah kukatakan di awal tadi. Aku akan terus membuat rencana untuk hidupku ke depan. “biarkan semuanya mengalir” bukanlah ungkapan yang salah. Karna bahkan aliran itu pun membutuhkan suatu perencanaan. Akankah mengalir ke muara atau hilir yang lain.
Akan sangat menyenangkan saat rencanaku match dengan-Nya. Seperti
Aku: rencanaku beso adalah punya pacar baru!
Tuhan: pas banget sama planningku lho.
Aku: masa sih?
Tuhan: yoi cuy.
Aku+Tuhan: *toss*
Hahaha. Mulai ngelantur deh. Siapa juga yang mau denger rencanaku buat punya pacar baru, anyhow?! Tapi gak ada salahnya juga aku punya rencana kayak gitu. Ya gak? Hahaha. Rencana terbaikku saat ini adalah menikmati serta mensyukuri berkat tiap hari dan membeli beberapa barang yang aku butuhin. Ingat, yang kubutuhin! Aku bukan hedonist. Tak separah itu. Yeah.
The last, rencana bukanlah hal-hal yang harus terjadi dalam kehidupan kita. Rencana adalah cara untuk mengatur dan menata kehidupan kita. Rencana adalah apa yang kita pikir baik bila terjadi dalam hidup kita, dan bukan sesuatu yang terasa jahat untuk orang lain.
Make your best life planning, but let God take the wheel.
Jumat, 08 Juli 2011
I used to have fun in Love
Kalo ngeliat postingn2ku, kayaknya aku justru gak pernah menceritakan tentang my exman, bahkan saat dia belom menjadi exman….hahaa dulu aku belom mengenal istilah galau sih. Nahlo, apadeeeh banget kan?!
Dia. Cakap dalam olahraga tapi gak bakat di musik. Padahal aku selalu kagum sama cowok yang bisa maen musik. Hmm olahraga juga sih. Apapun! Toh dia tetep menang undian dari ale-ale, dengan aku sebagai hadiah utamanya. Dan dengan tingkat kegirangan total dia bilang “terima kasih ale-ale, saya gak nyangka dapet hadiahnya wawawaaa…”
Orangnya??
Gimana aku mendeskripsikannya ya??
Dia bahkan sangat sedikit mengeluarkan kata2, beda banget sama aku. Dia. Sangat sedikit mengeluh dan terlalu banyak mendengar keluhanku. Dia. Gak jarang bikin aku berusaha keras untuk membuatnya tertawa. Kadang terlalu serius, jadi terlalu sering ku kerjain. Hahahaa.
“tadi aku nelpon kamu kok yang angkat cewek sih?!” –trik.ngerjain.pacar#1—
“masa sih? Kapan??” –panik—
“tadi soreeee….iihhh sapa coba tuh cewe? Kayaknya gak mungkin adekmu!”
“hah?! Gak mungkin adekku lah! Handphone aku bawa terus dari tadi” –tambah panik—
“aaahhh bodo! Pokoknya tadi suara ceweeek….kamu kemana siiihhh??!”
“tapi dari tadi handphone ku bawa dan gak ada telpon masuk. Aku tadi maen ke tempat temen cowok loh, beneran! Emang cewek di telpon tadi bilang apa ke kamu?” –super panik—
“huhuuhuuu……tadi bilang gini, hm…….. maaf, sisa pulsa anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini. Hahahhaaa….”
Kalo mau, dia bisa aja mengumpatiku. Seperti yang biasa dilakuin temen2ku ke aku. Tapi dia dalam posisi bukan sekedar temenku. Jadi, tertawa adalah satu2nya tanggapan yang dia kasih ke aku. Karna aku bilang “aku gak ngetawain kamu, tapi ketawa sama kamu”. Cieeee. Goblok!
Aaahh…mulae melow deh. Menyee2 banget. Lalala. Yeyeye.
Aku bilang “kalo valentine’s day n ulang taun, aku gak mau dikasih boneka. Aku gak begitu suka boneka” tapi dia kasih aku boneka. Dan warna merah jambu?! Oh God, merah jambu?? Pink?? Masih mending kalo boneka Patrick star. Nah ini, pinky teddy super yucks! Lengkap dengan bunga plastik, yang juga warna pink. Ooohhh my….setidaknya warna ungu kenapa sih?!
♥Tapi kamu so loveable buat aku♥ --abdul n the coffee theory—
Dia. Bikin aku pengen menampar dan memelukknya pada waktu yang sama. Orang berengsek yang udah membawaku pada pilihan terburuk dan bilang kalo semua bakal baik2 aja. Orang baik dengan cara pikir yang buruk. Sial! Apa aku udah bilang kalo dia orang yang baik? Karna memang dia orang baik. Hanya saja dia manusia biasa, begitu juga aku. Terlalu cepat berevolusi, bahkan dalam hitungan tidak lebih dari setengah revolusi bumi.
Itu bagian terburuk dalam hubunganku.
Bagian terbaiknya adalah….apa ya?? bagian terbaiknya adalaaahhh…. --apaaa yaaa??--
Bagian terbaik. Hubunganku gak pernah terusik paparazzi dan gosip2 murahan anak2 remaja. Gak pernah jadi kayak sinetron ato serial2 tivi yang penuh konflik dan likaliku prahara percintaan super rumit. Never!
I said:
“aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan isyarat, dengan kata. Seperti kayu yang tak sempat diucapkannya kepada api yang menjadikannya abu”
Aku mendapat banyak. Tapi nyatanya memberi jauh lebih banyak. Sampe2 aku sempat merasa menyesal mengenalnya. Bukan pemikiran yang bijak memang. Karna 2 tahun 4 bulan sudah terlalu cukup untuk membuatku dewasa dalam perasaan, juga pemikiran. Dan aku, dengan akal sehatku saat ini bilang kalo aku gak pernah menyesal mengenal lelaki berengsek yang baik itu. Pada saat dia jadi orang berengsek, maupun saat dia jadi orang baik. Karna dengan begitu, sekarang aku biasa menghindari orang2 berengsek dan mengenal lebih banyak orang baik.
Dimana dia sekarang??
Aku juga gak tau. Atau mungkin gak mau tau. Jangan berpikir aku apatis. Aku hanya berjuang sekuat mungkin untuk mencegahnya masuk ke celah tersempit sekalipun.
Karna aku dan dia. Kami beda!
Aku gak mampu memenangkannya, dan sangat takut dimenangkan olehnya. Pada akhirnya, dua jalan berbeda yang kami perjuangkan membuat aku dan dia, kami memilih keadaan seperti sekarang ini.
Kalo dipertemukan lagi, aku harap bisa ketemu dia dengan keadaan yang jauh lebih baik dari dulu dan saat ini. Memiliki kehidupannya sendiri yang akan dikisahkannya buatku. Semoga kehidupan masih berpihak padaku sampe saat itu datang. Karna sekarang aku sedang berjuang merangkai kehidupan yang akan kukisahkan untuknya. Menemukan seseorang yang berjalan di jalan yang sama denganku.
Dan orang2 bertanya, gimana aku bisa ngelupain dia??
Itu pertanyaan terbodoh yang pernah ditanyain ke aku. Aku gak pernah dan gak akan bisa ngelupain dia. Kecuali kalo kepalaku dilempar kacang ijo, sekarung! Sampe amnesia. Nahlooo…
Suaranya, cara bicaranya, caranya memegang tanganku, pelukan, ciuman, semuanya seperti masih terlalu kuat melekat dalam ingatanku dan gak ada yang bisa mencurinya atau bahkan memintaku untuk menghapusnya, membuangnya jauh2. Mustahil buatku.
Gak banyak yang bisa diceritain dari dia dan aku, dari kami. Karna udah gak ada ‘kami’ lagi sekarang. Aku udah selesai dengan tawa dan air mata tentang aku dan dia.
Aku menikmati 2-tahun-4-bulan-ku sekaligus mengumpatinya. Apa mungkin akan jadi lebih lama lagi? Entahlah.
Aku bersyukur pernah merasa sangat bahagia dan sangat terluka. Dengan begitu, aku belajar membuat orang bahagia lebih banyak dan terluka lebih sedikit. Tersenyum lebih banyak dan khawatir lebih sedikit. –sk—
Teruntuk waktu yang telah berlalu dan seseorang yang singgah saat itu. 27_06_11
Dia. Cakap dalam olahraga tapi gak bakat di musik. Padahal aku selalu kagum sama cowok yang bisa maen musik. Hmm olahraga juga sih. Apapun! Toh dia tetep menang undian dari ale-ale, dengan aku sebagai hadiah utamanya. Dan dengan tingkat kegirangan total dia bilang “terima kasih ale-ale, saya gak nyangka dapet hadiahnya wawawaaa…”
Orangnya??
Gimana aku mendeskripsikannya ya??
Dia bahkan sangat sedikit mengeluarkan kata2, beda banget sama aku. Dia. Sangat sedikit mengeluh dan terlalu banyak mendengar keluhanku. Dia. Gak jarang bikin aku berusaha keras untuk membuatnya tertawa. Kadang terlalu serius, jadi terlalu sering ku kerjain. Hahahaa.
“tadi aku nelpon kamu kok yang angkat cewek sih?!” –trik.ngerjain.pacar#1—
“masa sih? Kapan??” –panik—
“tadi soreeee….iihhh sapa coba tuh cewe? Kayaknya gak mungkin adekmu!”
“hah?! Gak mungkin adekku lah! Handphone aku bawa terus dari tadi” –tambah panik—
“aaahhh bodo! Pokoknya tadi suara ceweeek….kamu kemana siiihhh??!”
“tapi dari tadi handphone ku bawa dan gak ada telpon masuk. Aku tadi maen ke tempat temen cowok loh, beneran! Emang cewek di telpon tadi bilang apa ke kamu?” –super panik—
“huhuuhuuu……tadi bilang gini, hm…….. maaf, sisa pulsa anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini. Hahahhaaa….”
Kalo mau, dia bisa aja mengumpatiku. Seperti yang biasa dilakuin temen2ku ke aku. Tapi dia dalam posisi bukan sekedar temenku. Jadi, tertawa adalah satu2nya tanggapan yang dia kasih ke aku. Karna aku bilang “aku gak ngetawain kamu, tapi ketawa sama kamu”. Cieeee. Goblok!
Aaahh…mulae melow deh. Menyee2 banget. Lalala. Yeyeye.
Aku bilang “kalo valentine’s day n ulang taun, aku gak mau dikasih boneka. Aku gak begitu suka boneka” tapi dia kasih aku boneka. Dan warna merah jambu?! Oh God, merah jambu?? Pink?? Masih mending kalo boneka Patrick star. Nah ini, pinky teddy super yucks! Lengkap dengan bunga plastik, yang juga warna pink. Ooohhh my….setidaknya warna ungu kenapa sih?!
♥Tapi kamu so loveable buat aku♥ --abdul n the coffee theory—
Dia. Bikin aku pengen menampar dan memelukknya pada waktu yang sama. Orang berengsek yang udah membawaku pada pilihan terburuk dan bilang kalo semua bakal baik2 aja. Orang baik dengan cara pikir yang buruk. Sial! Apa aku udah bilang kalo dia orang yang baik? Karna memang dia orang baik. Hanya saja dia manusia biasa, begitu juga aku. Terlalu cepat berevolusi, bahkan dalam hitungan tidak lebih dari setengah revolusi bumi.
Itu bagian terburuk dalam hubunganku.
Bagian terbaiknya adalah….apa ya?? bagian terbaiknya adalaaahhh…. --apaaa yaaa??--
Bagian terbaik. Hubunganku gak pernah terusik paparazzi dan gosip2 murahan anak2 remaja. Gak pernah jadi kayak sinetron ato serial2 tivi yang penuh konflik dan likaliku prahara percintaan super rumit. Never!
I said:
“aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan isyarat, dengan kata. Seperti kayu yang tak sempat diucapkannya kepada api yang menjadikannya abu”
Aku mendapat banyak. Tapi nyatanya memberi jauh lebih banyak. Sampe2 aku sempat merasa menyesal mengenalnya. Bukan pemikiran yang bijak memang. Karna 2 tahun 4 bulan sudah terlalu cukup untuk membuatku dewasa dalam perasaan, juga pemikiran. Dan aku, dengan akal sehatku saat ini bilang kalo aku gak pernah menyesal mengenal lelaki berengsek yang baik itu. Pada saat dia jadi orang berengsek, maupun saat dia jadi orang baik. Karna dengan begitu, sekarang aku biasa menghindari orang2 berengsek dan mengenal lebih banyak orang baik.
Dimana dia sekarang??
Aku juga gak tau. Atau mungkin gak mau tau. Jangan berpikir aku apatis. Aku hanya berjuang sekuat mungkin untuk mencegahnya masuk ke celah tersempit sekalipun.
Karna aku dan dia. Kami beda!
Aku gak mampu memenangkannya, dan sangat takut dimenangkan olehnya. Pada akhirnya, dua jalan berbeda yang kami perjuangkan membuat aku dan dia, kami memilih keadaan seperti sekarang ini.
Kalo dipertemukan lagi, aku harap bisa ketemu dia dengan keadaan yang jauh lebih baik dari dulu dan saat ini. Memiliki kehidupannya sendiri yang akan dikisahkannya buatku. Semoga kehidupan masih berpihak padaku sampe saat itu datang. Karna sekarang aku sedang berjuang merangkai kehidupan yang akan kukisahkan untuknya. Menemukan seseorang yang berjalan di jalan yang sama denganku.
Dan orang2 bertanya, gimana aku bisa ngelupain dia??
Itu pertanyaan terbodoh yang pernah ditanyain ke aku. Aku gak pernah dan gak akan bisa ngelupain dia. Kecuali kalo kepalaku dilempar kacang ijo, sekarung! Sampe amnesia. Nahlooo…
Suaranya, cara bicaranya, caranya memegang tanganku, pelukan, ciuman, semuanya seperti masih terlalu kuat melekat dalam ingatanku dan gak ada yang bisa mencurinya atau bahkan memintaku untuk menghapusnya, membuangnya jauh2. Mustahil buatku.
Gak banyak yang bisa diceritain dari dia dan aku, dari kami. Karna udah gak ada ‘kami’ lagi sekarang. Aku udah selesai dengan tawa dan air mata tentang aku dan dia.
Aku menikmati 2-tahun-4-bulan-ku sekaligus mengumpatinya. Apa mungkin akan jadi lebih lama lagi? Entahlah.
Aku bersyukur pernah merasa sangat bahagia dan sangat terluka. Dengan begitu, aku belajar membuat orang bahagia lebih banyak dan terluka lebih sedikit. Tersenyum lebih banyak dan khawatir lebih sedikit. –sk—
Teruntuk waktu yang telah berlalu dan seseorang yang singgah saat itu. 27_06_11
Jumat, 10 Juni 2011
Ratu Semesta
Kenapa aku begitu yakin kalo sudah terlalu banyak orang yang tersesat di blog go-blog ini??
Dan kamu? Mungkin saja salah satu dari mereka……
Dominansi diri, visualisasi rasa, segregasi pemikiran!
Dualisme perasaan yang terlampau sering menggetarkan keyakinan yang hakiki. Dan distorsi? Bahkan masih samar-samar, terpaku pada definisi.
Dua tahun. Aku adalah ratu semesta. Mengatur segala rasa, asa, dengan sempurna. Berjalan tegak, menengadah penuh keangkuhan. Keangkuhan atas kelemahan dan ratap kesedihan. Sudah ku bilang, aku pernah, seorang ratu semesta. Cahaya matahari dapat kuredupkan, sinar rembulan mampu kupadamkan, dan warna-warni pelangi sanggup kubuat keabu-abuan. Hanya untuk memperlihatkan kepada siapapun bahwa sang ratu semesta masih bertahan bahkan tanpa kehangatan matahari, keindahan bulan, juga pelangi.
Lalu kamu. Datang dengan senyuman. Menyebalkan! Siapa lagi? Kamu! Membawa satu kosakata baru dalam kamus hidup sang ratu semesta “GALAU!”. Terbatas, sekali lagi dalam rasa dan definisi kata. Membuatku menyerah. Aku bukan lagi ratu semesta. Kau mungkin tak sehebat aku. Mengendalikan angkasa dan cakrawala. Cahaya dan warna. Tapi lihat, kau begitu mudahnya mengatur tutur kata. Menguasai bahasa. Menerangredupkan sang ratu semesta. Kau. Kamu. Pangeran jagad raya! Aku menyerah. Nyaris kalah. Bahkan mungkin sudah.
Dua di antara tiga. Pilih satu di antara dua. Mudah kan?! Haruskah diam dan menyimpan? Ataukah terlalu banyak berkata dan mengungkap? Jangan pilihan ketiga. Aku yakin kau akan menanyakannya. “BIASA SAJA” adalah bukan dua kata yang kusuka. Bahkan saat aku seorang ratu semesta. Atau saat aku menjadi seseorang sebelumnya. Siapapun itu. Kombinasi dua kata itu pernah begitu menggores. Melukai. Menyakiti. Dan “BIASA SAJA” akan menjadi biasa saja saat ini. Karna bukan lagi aku sang ratu semesta. Atau seseorang sebelumnya.
Pangeran jagad raya. Ratu semesta. Kita. Lawankah? Kawankah? Sekedar itukah? Dalam kelemahan dan keabu-abuan. Hitam dan putihku. Seakan kamu coba yakinkan. Ada sesuatu yang lebih menawan dari pada kembali menjadi sang ratu semesta. Sesuatu yang menggeliat dari dalam pikiran untuk bisa kurengkuh. Kuraih dengan yakin. Walau bahkan kau sendiri tidak. Dan kini pun aku bukan siapa-siapa. Bukan ratu semesta. Bukan seseorang sebelumnya. Bukan sesuatu yang samar-samar kau tawarkan untuk kujadikan nyata.
Tolong tetapkan! Harus menjadi siapa aku? Karna kata “GALAU” atau apapun yang kau doktrinkan. Membuatku lemah. Mengandalkan kekuatanmu. Sang pangeran jagad raya! _sk_♥
Dan kamu? Mungkin saja salah satu dari mereka……
Dominansi diri, visualisasi rasa, segregasi pemikiran!
Dualisme perasaan yang terlampau sering menggetarkan keyakinan yang hakiki. Dan distorsi? Bahkan masih samar-samar, terpaku pada definisi.
Dua tahun. Aku adalah ratu semesta. Mengatur segala rasa, asa, dengan sempurna. Berjalan tegak, menengadah penuh keangkuhan. Keangkuhan atas kelemahan dan ratap kesedihan. Sudah ku bilang, aku pernah, seorang ratu semesta. Cahaya matahari dapat kuredupkan, sinar rembulan mampu kupadamkan, dan warna-warni pelangi sanggup kubuat keabu-abuan. Hanya untuk memperlihatkan kepada siapapun bahwa sang ratu semesta masih bertahan bahkan tanpa kehangatan matahari, keindahan bulan, juga pelangi.
Lalu kamu. Datang dengan senyuman. Menyebalkan! Siapa lagi? Kamu! Membawa satu kosakata baru dalam kamus hidup sang ratu semesta “GALAU!”. Terbatas, sekali lagi dalam rasa dan definisi kata. Membuatku menyerah. Aku bukan lagi ratu semesta. Kau mungkin tak sehebat aku. Mengendalikan angkasa dan cakrawala. Cahaya dan warna. Tapi lihat, kau begitu mudahnya mengatur tutur kata. Menguasai bahasa. Menerangredupkan sang ratu semesta. Kau. Kamu. Pangeran jagad raya! Aku menyerah. Nyaris kalah. Bahkan mungkin sudah.
Dua di antara tiga. Pilih satu di antara dua. Mudah kan?! Haruskah diam dan menyimpan? Ataukah terlalu banyak berkata dan mengungkap? Jangan pilihan ketiga. Aku yakin kau akan menanyakannya. “BIASA SAJA” adalah bukan dua kata yang kusuka. Bahkan saat aku seorang ratu semesta. Atau saat aku menjadi seseorang sebelumnya. Siapapun itu. Kombinasi dua kata itu pernah begitu menggores. Melukai. Menyakiti. Dan “BIASA SAJA” akan menjadi biasa saja saat ini. Karna bukan lagi aku sang ratu semesta. Atau seseorang sebelumnya.
Pangeran jagad raya. Ratu semesta. Kita. Lawankah? Kawankah? Sekedar itukah? Dalam kelemahan dan keabu-abuan. Hitam dan putihku. Seakan kamu coba yakinkan. Ada sesuatu yang lebih menawan dari pada kembali menjadi sang ratu semesta. Sesuatu yang menggeliat dari dalam pikiran untuk bisa kurengkuh. Kuraih dengan yakin. Walau bahkan kau sendiri tidak. Dan kini pun aku bukan siapa-siapa. Bukan ratu semesta. Bukan seseorang sebelumnya. Bukan sesuatu yang samar-samar kau tawarkan untuk kujadikan nyata.
Tolong tetapkan! Harus menjadi siapa aku? Karna kata “GALAU” atau apapun yang kau doktrinkan. Membuatku lemah. Mengandalkan kekuatanmu. Sang pangeran jagad raya! _sk_♥
Selasa, 24 Mei 2011
Fatamorgana!
Ada sesuatu yang membuatku sesak napas. Bukan udara. Bukan debu. Tapi hal lain yang jauh lebih sulit untuk diraba. Hal-hal yang terjadi kurang dari 24 jam ini. Aurora yang seketika datang dalam penglihatanku dan warna-warni, lebih nampak seperti abu-abu yang selalu saja tidak begitu jelas.
Aku kuliah seperti biasa. Mengantuk seperti biasa. Mengobrol di dalam kelas dan itu masih seperti biasa. Yang berbeda hanya bagian presentasi dalam kuliah Teknologi Benihku. Hm… sepertinya itu juga biasa aja. Dan seperti biasa aku masih terlalu takut terlihat akrab denganmu di dalam kelas, jadi aku masih berusaha untuk menahan diri, tidak menyapamu. Tidak tersenyum padamu. Tidak menanyakan hal-hal bodoh. Tidak mencari cara, apapun itu untuk mendapat perhatianmu. Tidak dan tidak akan. Tidak hari ini dan tidak tau sampai kapan. Tidak!
***
Aku selalu dan hampir terlalu sering memutuskan untuk tidak menyukai tugas-tugas kuliah. Terlebih tugas kelompok! Bukannya aku terlalu yakin dan percaya diri untuk bisa ngerjain tugas-tugas individu atau tidak suka kerjasama dalam kelompok. Aku suka kerjasama dan aku suka kelompokku saat ini. Beberapa!
Orang-orang ini bukan orang-orang yang menyebalkan. Oke,beberapa emang nyebelin. Tapi itu hanya karna mereka terlalu akrab denganku. Merasa berhak untuk berperilaku menyebalkan terhadapku. Tetap saja aku akan terus dan selalu menerima perlakuan mereka. Hanya karna mereka akan selalu melegitimasikan apapun tindakan mereka terhadapku. Dan aku selalu menjadi minoritas yang kalah dalam voting. Ini gak adil!
Tertawa. Bercerita. Berkhayal dan berangan-angan tentang masa depan. Ini ngerjain tugas atau ngapain sih? Dan tersadar kalo kami adalah sekumpulan jiwa-jiwa yang terlempar dari tempat yang sama. Pantas saja. Atmosfer terasa berbeda saat harus ada bersama mereka. Selalu ada sesuatu yang menggelitik kami untuk tidak hanya saling diam terpaku. Dan sekecil apapun itu selalu bisa membuat kami bercakap-cakap terlalu banyak. Terlalu pribadi. Terlalu intim.
Menjadi tidak menyenangkan kalo hal-hal pribadiku yang menjadi bahan obrolan. Benar saja. Mereka ungkap satu persatu. Aku mati kutu. Bertanya-tanya bagaimana mereka bisa tau. Begitu banyak. Terlau banyak hal tentangku. Dan juga tentangmu?! Ini gila. Mereka gila. Aku juga. Sejenak terpikir olehku untuk mengumpulkan mereka dalam satu lubang pembuangan, lalu dengan senyum kemenangan kutekan tombol ‘splash’ dan walaaaa lenyaplah mereka! Sempurna. Nikmatilah privasiku sampai puas. Sampai aku gak bisa punya sedikit saja rahasia. Gak masalah buatku, mungkin sudah terbiasa. Akan terbiasa walo sebenernya gak mau.
Baiklah. Baiklah. Aku mungkin akan bersikap acuh tak acuh dengan itu semua. Tapi seorang temanku mungkin tidak berkeputusan untuk mengambil sikap yang sama denganku saat menghadapi masalahnya. Mungkin gak cocok dibilang masalah. Hambatan!
“menurutmu apa sih yang beda dari aku setelah aku ada di posisi ini?” Pertanyaan yang menyentakku, meski realitanya aku masih saja berbaring di lantai Sekretariat Bersama waktu itu. Aku memandang langit-langit yang putih. Berharap menemukan kata-kata tepat di sana untuk menjawab pertanyaan yang sebenarnya sangat sederhana itu. Dia kelihatan tidak stabil, tapi berusaha untuk itu. Begitu juga aku. Kata-kata yang keluar dari mulutku nanti, jangan sampai membuatnya sakit hati.
“apa ya? Aku sih gak ngerasa ada perubahan yang gimana banget dari kamu”. Aku berusaha senetral mungkin. Tapi aku jujur.
“bilang aja gakpapa. Jangan ngerasa gak enak karna kamu udah kenal aku dari awal kita di sini”. Apa yang musti ku bilang? Kenyataannya aku yang salah karna terlalu tidak peduli dengan perubahan seseorang yang cukup lama ku kenal. Bahkan perubahan kecil? Aku menyesal.
“oke. Mungkin bukan aku yang ngerasa kayak gitu. Yang aku tau dan aku denger, orang lain ngerasa gitu”. Berbicara sedatar mungkin. Tanpa penekanan kata apapun. Mungkin saja dia sudah cukup tertekan mendengar kata-kataku. Dia duduk membelakangiku. Menatap layar televisi sambil mengganti channel berkali-kali. Penuh keresahan. Aku yakin konsentrasinya bukan pada apa yang dia lihat, tapi pada apa yang baru saja dia dengar. Pandanganku bahkan gak mampu meraih ekspresi wajahnya waktu itu. Warna apa yang terpancar, aku gak tau!
Tetap dengan posisi seperti itu. Dia bercerita dari A sampai Z. Mungkin melewatkan sedikit bagian J sampai K. Tapi yang ku dengar, dia udah cerita sangat banyak. Lengkap dan sempurna. Dan aku --masih dengan gaya sunbathing-- sembari sesekali menendangi lemari besar di depanku, hanya bisa menanggapi dengan kalimat yang paling sederhana. Aku cuma gak pengen dia menangkap makna yang salah. Dan membuatku menyesal udah menjawab pertanyaannya dan mengatakan banyak hal yang ingin diketahuinya. Oleh karnanya, aku sangat berhati-hati terhadap hati temanku ini.
“emang aku yang salah. Gak akan selesai kalo terus nyalahin orang lain kan? Biar, aku aja yang salah!”. Dia berkesimpulan seperti itu. Seakan tidak ingin meneruskan percakapan lebih lama lagi. Atau membuatnya merasa bertanggung jawab kalo saja aku mulai muak dengan perbincangan yang sudah dimulainya sejak beberapa menit yang lalu itu. Tidak, kamu tidak salah, teman! Mungkin udara yang salah, membuat suasana terlalu dingin. Atau sinar matahari yang salah, menyengat terlalu banyak hati. Bisa juga angin, merobohkan batin yang dulunya begitu kuat berdiri. Tapi bukankah kita masih punya embun, teman? Setetes saja sudah cukup memberi kita kesegaran dan bahkan kekuatan berkalikali lipat untuk bisa menengadahkan kepala, tidak terlalu tinggi. Tapi untuk menatap sekeliling. Bukan sekedar garis lurus di sana, tapi juga lekukan, spiral, bahkan yang bisa kita sebut ‘abstrak’. Jangan bayangkan sebuah homogenitas di sana! Itu gak pernah ada. Fatamorgana. Dan ingat juga kalo kita masih punya gerimis yang membawa segala romantisme, juga kerlap-kerlip yang biasa kita pancarkan dari kedua mata kita. Don’t worry, u’re gonna make this right again!
Dan hembusan angin malam sudah sangat cukup untuk menemaniku pulang dan segera menuliskan semua ini. Pukul setengah sebelas malam waktu itu tidak seperti biasanya. Aku berpikir terlalu keras, atau sebenarnya aku tidak berpikir apapun waktu itu? Kucuri sedikit waktuku walo sebenarnya aku memiliki hak sepenuhnya atas waktuku. Menatap Orion di langit selatan. Seakan sedang menertawakanku dan berkata dengan angkuh “Seberapa yakin kau akan selalu muncul di selatan? Tidakkah utara begitu menggoda?” Dan aku yakin itu retoris. Sial! Sinarnya begitu sombong berpendar di segala penjuru. Dan hei langit, ku pastikan kau akan menyesal sudah berkonspirasi dengannya malam ini.
Teruntuk sahabat, orion, dan langit malam_23.05.11
Aku kuliah seperti biasa. Mengantuk seperti biasa. Mengobrol di dalam kelas dan itu masih seperti biasa. Yang berbeda hanya bagian presentasi dalam kuliah Teknologi Benihku. Hm… sepertinya itu juga biasa aja. Dan seperti biasa aku masih terlalu takut terlihat akrab denganmu di dalam kelas, jadi aku masih berusaha untuk menahan diri, tidak menyapamu. Tidak tersenyum padamu. Tidak menanyakan hal-hal bodoh. Tidak mencari cara, apapun itu untuk mendapat perhatianmu. Tidak dan tidak akan. Tidak hari ini dan tidak tau sampai kapan. Tidak!
***
Aku selalu dan hampir terlalu sering memutuskan untuk tidak menyukai tugas-tugas kuliah. Terlebih tugas kelompok! Bukannya aku terlalu yakin dan percaya diri untuk bisa ngerjain tugas-tugas individu atau tidak suka kerjasama dalam kelompok. Aku suka kerjasama dan aku suka kelompokku saat ini. Beberapa!
Orang-orang ini bukan orang-orang yang menyebalkan. Oke,beberapa emang nyebelin. Tapi itu hanya karna mereka terlalu akrab denganku. Merasa berhak untuk berperilaku menyebalkan terhadapku. Tetap saja aku akan terus dan selalu menerima perlakuan mereka. Hanya karna mereka akan selalu melegitimasikan apapun tindakan mereka terhadapku. Dan aku selalu menjadi minoritas yang kalah dalam voting. Ini gak adil!
Tertawa. Bercerita. Berkhayal dan berangan-angan tentang masa depan. Ini ngerjain tugas atau ngapain sih? Dan tersadar kalo kami adalah sekumpulan jiwa-jiwa yang terlempar dari tempat yang sama. Pantas saja. Atmosfer terasa berbeda saat harus ada bersama mereka. Selalu ada sesuatu yang menggelitik kami untuk tidak hanya saling diam terpaku. Dan sekecil apapun itu selalu bisa membuat kami bercakap-cakap terlalu banyak. Terlalu pribadi. Terlalu intim.
Menjadi tidak menyenangkan kalo hal-hal pribadiku yang menjadi bahan obrolan. Benar saja. Mereka ungkap satu persatu. Aku mati kutu. Bertanya-tanya bagaimana mereka bisa tau. Begitu banyak. Terlau banyak hal tentangku. Dan juga tentangmu?! Ini gila. Mereka gila. Aku juga. Sejenak terpikir olehku untuk mengumpulkan mereka dalam satu lubang pembuangan, lalu dengan senyum kemenangan kutekan tombol ‘splash’ dan walaaaa lenyaplah mereka! Sempurna. Nikmatilah privasiku sampai puas. Sampai aku gak bisa punya sedikit saja rahasia. Gak masalah buatku, mungkin sudah terbiasa. Akan terbiasa walo sebenernya gak mau.
Baiklah. Baiklah. Aku mungkin akan bersikap acuh tak acuh dengan itu semua. Tapi seorang temanku mungkin tidak berkeputusan untuk mengambil sikap yang sama denganku saat menghadapi masalahnya. Mungkin gak cocok dibilang masalah. Hambatan!
“menurutmu apa sih yang beda dari aku setelah aku ada di posisi ini?” Pertanyaan yang menyentakku, meski realitanya aku masih saja berbaring di lantai Sekretariat Bersama waktu itu. Aku memandang langit-langit yang putih. Berharap menemukan kata-kata tepat di sana untuk menjawab pertanyaan yang sebenarnya sangat sederhana itu. Dia kelihatan tidak stabil, tapi berusaha untuk itu. Begitu juga aku. Kata-kata yang keluar dari mulutku nanti, jangan sampai membuatnya sakit hati.
“apa ya? Aku sih gak ngerasa ada perubahan yang gimana banget dari kamu”. Aku berusaha senetral mungkin. Tapi aku jujur.
“bilang aja gakpapa. Jangan ngerasa gak enak karna kamu udah kenal aku dari awal kita di sini”. Apa yang musti ku bilang? Kenyataannya aku yang salah karna terlalu tidak peduli dengan perubahan seseorang yang cukup lama ku kenal. Bahkan perubahan kecil? Aku menyesal.
“oke. Mungkin bukan aku yang ngerasa kayak gitu. Yang aku tau dan aku denger, orang lain ngerasa gitu”. Berbicara sedatar mungkin. Tanpa penekanan kata apapun. Mungkin saja dia sudah cukup tertekan mendengar kata-kataku. Dia duduk membelakangiku. Menatap layar televisi sambil mengganti channel berkali-kali. Penuh keresahan. Aku yakin konsentrasinya bukan pada apa yang dia lihat, tapi pada apa yang baru saja dia dengar. Pandanganku bahkan gak mampu meraih ekspresi wajahnya waktu itu. Warna apa yang terpancar, aku gak tau!
Tetap dengan posisi seperti itu. Dia bercerita dari A sampai Z. Mungkin melewatkan sedikit bagian J sampai K. Tapi yang ku dengar, dia udah cerita sangat banyak. Lengkap dan sempurna. Dan aku --masih dengan gaya sunbathing-- sembari sesekali menendangi lemari besar di depanku, hanya bisa menanggapi dengan kalimat yang paling sederhana. Aku cuma gak pengen dia menangkap makna yang salah. Dan membuatku menyesal udah menjawab pertanyaannya dan mengatakan banyak hal yang ingin diketahuinya. Oleh karnanya, aku sangat berhati-hati terhadap hati temanku ini.
“emang aku yang salah. Gak akan selesai kalo terus nyalahin orang lain kan? Biar, aku aja yang salah!”. Dia berkesimpulan seperti itu. Seakan tidak ingin meneruskan percakapan lebih lama lagi. Atau membuatnya merasa bertanggung jawab kalo saja aku mulai muak dengan perbincangan yang sudah dimulainya sejak beberapa menit yang lalu itu. Tidak, kamu tidak salah, teman! Mungkin udara yang salah, membuat suasana terlalu dingin. Atau sinar matahari yang salah, menyengat terlalu banyak hati. Bisa juga angin, merobohkan batin yang dulunya begitu kuat berdiri. Tapi bukankah kita masih punya embun, teman? Setetes saja sudah cukup memberi kita kesegaran dan bahkan kekuatan berkalikali lipat untuk bisa menengadahkan kepala, tidak terlalu tinggi. Tapi untuk menatap sekeliling. Bukan sekedar garis lurus di sana, tapi juga lekukan, spiral, bahkan yang bisa kita sebut ‘abstrak’. Jangan bayangkan sebuah homogenitas di sana! Itu gak pernah ada. Fatamorgana. Dan ingat juga kalo kita masih punya gerimis yang membawa segala romantisme, juga kerlap-kerlip yang biasa kita pancarkan dari kedua mata kita. Don’t worry, u’re gonna make this right again!
Dan hembusan angin malam sudah sangat cukup untuk menemaniku pulang dan segera menuliskan semua ini. Pukul setengah sebelas malam waktu itu tidak seperti biasanya. Aku berpikir terlalu keras, atau sebenarnya aku tidak berpikir apapun waktu itu? Kucuri sedikit waktuku walo sebenarnya aku memiliki hak sepenuhnya atas waktuku. Menatap Orion di langit selatan. Seakan sedang menertawakanku dan berkata dengan angkuh “Seberapa yakin kau akan selalu muncul di selatan? Tidakkah utara begitu menggoda?” Dan aku yakin itu retoris. Sial! Sinarnya begitu sombong berpendar di segala penjuru. Dan hei langit, ku pastikan kau akan menyesal sudah berkonspirasi dengannya malam ini.
Teruntuk sahabat, orion, dan langit malam_23.05.11
Jumat, 20 Mei 2011
Greenzohibgueintovert
dan akhirnya terjebak bersama lerry...
introvert..
dengan masing-masing pasang mata tertuju pada layar leppi..
sesekali mengumpati cafe yang kupikir jualan nasi goreng pake sayur --gara ngeliat namanya--
musik bising...tayangan film di layar yang gede banget kayak layar tancep...
dan lerry masi sempat sesekali menengok handphonenya yang kalo getar kayak goyangannya mbak jupe...
choco lovers tambah bikin dingin suasana...
kita gak musuhan. hanya saling diam. hahahaaaa...
kubiarin aja deh. toh dia emang jarang onlen beberapa waktu ini, jadi biarlah dia introvert sekali saja....hahahaaa
hapeku sepi banget malem ini....facebook, twitter, ym...watedem!!
well, akhirnya kami saling bicara...
bukankah persahabatan, pertemanan, pergalauan....itu semua begitu simpel. terkadang terlalu mudah ditebak. tapi ini terlalu menyenangkan. berulang-ulang pun masih terasa sama. MENGGIRANGKAN!!
introvert..
dengan masing-masing pasang mata tertuju pada layar leppi..
sesekali mengumpati cafe yang kupikir jualan nasi goreng pake sayur --gara ngeliat namanya--
musik bising...tayangan film di layar yang gede banget kayak layar tancep...
dan lerry masi sempat sesekali menengok handphonenya yang kalo getar kayak goyangannya mbak jupe...
choco lovers tambah bikin dingin suasana...
kita gak musuhan. hanya saling diam. hahahaaaa...
kubiarin aja deh. toh dia emang jarang onlen beberapa waktu ini, jadi biarlah dia introvert sekali saja....hahahaaa
hapeku sepi banget malem ini....facebook, twitter, ym...watedem!!
well, akhirnya kami saling bicara...
bukankah persahabatan, pertemanan, pergalauan....itu semua begitu simpel. terkadang terlalu mudah ditebak. tapi ini terlalu menyenangkan. berulang-ulang pun masih terasa sama. MENGGIRANGKAN!!
Jumat, 08 April 2011
Laporan Praktikum Metodologi Percintaan
tiap kali inget kamu,aku slalu pengen mengecambahkan benih2 kegalauan yang mengalami dormansi kalo lagi di deketmu.
hahaaa...
kadang aku ngerasa tulisan2ku di blog ini naujubilejijiknyeee...
dan ngerasa sia2 kalo nyatanya ini gak bisa merubah apapun antara aku dan kamu.
cuma numpuk. bejibun. busuk. bangke!
mungkin berbuat frontal dengan menjebakmu masuk link ke blog ini pun gak bakal ngaruh apa2. ternyata emang gak segampang temen2ku ngomong "kapan Sept?!" atau "ihiiirrr..."
atow sebenernya aku sendiri yang bikin semua ini jadi sulit dan rumit? damn!!
mungkin ini masalah antara sensor syaraf otak dengan hatimu yang disconnected terhadapku.
'u have to hard work if you want to get feces *success!',pesan seorang sahabat yang hobi pup *sebut saja si embek*.
--sebenernya itu gak cukup menyemangatiku, teman-- but,thanks--
dan kamu-yang-namanya-menuh2in-inbox-hapeku,, aku mau kamu tau kalo aku bingung. resah. gundah. gulana. galau! karna kedekatan kita berbanding terbalik dengan kejelasan arah dan tujuanku. makin kita deket, makin aku ngerasa gak jelas.
andai kita keturunan hasil persilangan F1 dengan inbreed, pasti kita udah jadi kultivar hybrid terbaik,
haassshhh GEJE!!
lalu, perhitungan statistik pun akan mencapai sebuah kesimpulan bahwa Ho ditolak dan segala estimasiku terhadapmu selama ini salah!
dan rancangan percobaan yang ku buat cuma bakal nunjukin nilai sum-square error yang besar. dan tidak adanya beda nyata antara aku dan kamu nunjukin bahwa pengaruh perlakuanku terhadapmu selama ini sia2.
pait. pait. paiittt!
dan maap aja kalo ternyata dari A sampai Z, kamu bukan "A"-ku.
banyak hal yang nyatanya harus ku prioritaskan.
--ohyeeaaaahhh--
miris rasanya mengingat aku berjuang mencarikan jalan percintaan buat sahabatku, sementara aku sendiri gak tentu arah kayak gini.
"cause love will find the way" kata temenku yang hobi mengutip lirik lagu.
preketeekkk preett....haahhaaa...
"tapi kamu udah ada kemajuan Sept..." timpal temanku dengan membabibuta.
"kemajuan apaan?!"
huuhh. haaaahhh. uughhh.
--it's harder than before tauukk!--
hmm...
--tiba2 senyum2 sendiri--
hahaa
u're drivin' me crazy in luv with u tenanan iki cah!
gembel.gembel!
bahkan aku suka cara makanmu yang kayak gembel kelaparan itu. hahaaa
dan kecerobohanmu di tempat parkir, yang bikin kamu diketawain banyak orang.
aku gak ngerasa malu sama sekali saat harus jadi orang yang ada di deketmu waktu itu. wajah panikmu waktu itu justru membuatku pengen bilang ke kamu "everything will be okay, mamen!" *tetap dengan gaya alay*
heheheeeiy
kata2mu tentang inhibitor, enzim, dan katalisis laporan itu akan ku 're-analogy'kan dalam metodologi percintaan ini. kayak gini.
"inhibitor dalam percintaan adalah ketidakpastian-arah-tujuan-akhir-metodologi-percobaan-yang-dilakukan sehingga enzim BukanHarapanSemata sangat dibutuhkan untuk mengkatalisis reaksi2 CintaKasih agar berlangsung capcus dan maknyus"
--hooeekzz bnget siiihh--
hahaa
lagi2 jadi menjijikkan ya?!
maap dah.
terus kesimpulannya:
ora bakal ilang tresnaku iki, janji anggonku ngenteni...hahaa
DaftarPustaka:
Galauness. 2011. Pengantar Metodologi Percintaan. Lost in Love Publisher. Yokyakarto.
Lampiran:
data hasil pengamatan terhadapmu selama beberapa waktu.
P.S.:judul terinspirasi dari perkataan temen "blogmu tuh isinya curhatan galau semua. gak perna ada laporan praktikum" nah, sekarang terjawab sudah kerinduan kalian akan laporan praktikum!!
hahaaa...
kadang aku ngerasa tulisan2ku di blog ini naujubilejijiknyeee...
dan ngerasa sia2 kalo nyatanya ini gak bisa merubah apapun antara aku dan kamu.
cuma numpuk. bejibun. busuk. bangke!
mungkin berbuat frontal dengan menjebakmu masuk link ke blog ini pun gak bakal ngaruh apa2. ternyata emang gak segampang temen2ku ngomong "kapan Sept?!" atau "ihiiirrr..."
atow sebenernya aku sendiri yang bikin semua ini jadi sulit dan rumit? damn!!
mungkin ini masalah antara sensor syaraf otak dengan hatimu yang disconnected terhadapku.
'u have to hard work if you want to get feces *success!',pesan seorang sahabat yang hobi pup *sebut saja si embek*.
--sebenernya itu gak cukup menyemangatiku, teman-- but,thanks--
dan kamu-yang-namanya-menuh2in-inbox-hapeku,, aku mau kamu tau kalo aku bingung. resah. gundah. gulana. galau! karna kedekatan kita berbanding terbalik dengan kejelasan arah dan tujuanku. makin kita deket, makin aku ngerasa gak jelas.
andai kita keturunan hasil persilangan F1 dengan inbreed, pasti kita udah jadi kultivar hybrid terbaik,
haassshhh GEJE!!
lalu, perhitungan statistik pun akan mencapai sebuah kesimpulan bahwa Ho ditolak dan segala estimasiku terhadapmu selama ini salah!
dan rancangan percobaan yang ku buat cuma bakal nunjukin nilai sum-square error yang besar. dan tidak adanya beda nyata antara aku dan kamu nunjukin bahwa pengaruh perlakuanku terhadapmu selama ini sia2.
pait. pait. paiittt!
dan maap aja kalo ternyata dari A sampai Z, kamu bukan "A"-ku.
banyak hal yang nyatanya harus ku prioritaskan.
--ohyeeaaaahhh--
miris rasanya mengingat aku berjuang mencarikan jalan percintaan buat sahabatku, sementara aku sendiri gak tentu arah kayak gini.
"cause love will find the way" kata temenku yang hobi mengutip lirik lagu.
preketeekkk preett....haahhaaa...
"tapi kamu udah ada kemajuan Sept..." timpal temanku dengan membabibuta.
"kemajuan apaan?!"
huuhh. haaaahhh. uughhh.
--it's harder than before tauukk!--
hmm...
--tiba2 senyum2 sendiri--
hahaa
u're drivin' me crazy in luv with u tenanan iki cah!
gembel.gembel!
bahkan aku suka cara makanmu yang kayak gembel kelaparan itu. hahaaa
dan kecerobohanmu di tempat parkir, yang bikin kamu diketawain banyak orang.
aku gak ngerasa malu sama sekali saat harus jadi orang yang ada di deketmu waktu itu. wajah panikmu waktu itu justru membuatku pengen bilang ke kamu "everything will be okay, mamen!" *tetap dengan gaya alay*
heheheeeiy
kata2mu tentang inhibitor, enzim, dan katalisis laporan itu akan ku 're-analogy'kan dalam metodologi percintaan ini. kayak gini.
"inhibitor dalam percintaan adalah ketidakpastian-arah-tujuan-akhir-metodologi-percobaan-yang-dilakukan sehingga enzim BukanHarapanSemata sangat dibutuhkan untuk mengkatalisis reaksi2 CintaKasih agar berlangsung capcus dan maknyus"
--hooeekzz bnget siiihh--
hahaa
lagi2 jadi menjijikkan ya?!
maap dah.
terus kesimpulannya:
ora bakal ilang tresnaku iki, janji anggonku ngenteni...hahaa
DaftarPustaka:
Galauness. 2011. Pengantar Metodologi Percintaan. Lost in Love Publisher. Yokyakarto.
Lampiran:
data hasil pengamatan terhadapmu selama beberapa waktu.
P.S.:judul terinspirasi dari perkataan temen "blogmu tuh isinya curhatan galau semua. gak perna ada laporan praktikum" nah, sekarang terjawab sudah kerinduan kalian akan laporan praktikum!!
Minggu, 03 April 2011
Empty!!
Ujan sore ini. Normal. Gak ‘aneh’ seperti waktu itu. Hahaaaha...
Merampungkan laporan laknat yang mustinya kelar semalem tapi terhambat karna tiap kali beradu mata dengan monitor, tangan ini gak tahan buat buka myfavefile E:\eska_doc2\pictures\.....
--foto kita berdua—
Dan saat ini kembali kulakukan.
Itu adalah pertama kali dan satu2nya potoku sama kamu, hasil jepretan kakak tingkat kita. *pengennya frontal aku pasang disini tapi gak aaahhh.hahaaa*
Nothing’s special. Dulu!
Sekarang?huuuhhh...*specialpaketelorbadak!*
Dan mataku mulae memperhatikan poto itu dengan seksama. Ku liat tubuhmu dari atas ke bawah balik ke atas lagi. Ku zoom in wajahmu, ku zoom out, zoom in lagi.
--kayak gitu terus sambil garuk2 kepala n ketek...hiihhii jijik—
Tapi tetep aja aku gak tau bagian mana dari tubuhmu yang bikin aku suka sama kamu.
Yang ada, rambut kucel jadulmu itu bikin tampangmu jadi kayak om2. lucu! Heheeee.. blom lagi kemeja biru muda dan celana panjang warna krem yang kamu pake itu, ngebuat aku pengen bilang “kao pasti bercanda?!” sambil bergaya alay.
Dan sepatu coklat? Hm...it’s a big NO!
Entah apa yang kmu pikirin waktu itu sampe2 milih pakaian sekenanya di saat kamu akan berbicara n tampil di depan banyak orang (penting).
Apalagi berpoto denganku.
--kita bener2 gak matching di poto itu.hahaa—
Tapiii..
Kenapa aku suka sama kamu?
Jari2ku mulae gatel membuka postinganku sebelumnya. Cuma 1 temen yang komen. Tapi aku tau yang baca gak hanya 1 orang ini.
--aku harap kamu salah satunya—
Bosan..
Nyoba ngintip blogmu.
Aku search di google. Eh lupa blogmu apaan!
Terpaksa buka fb dulu.
Nah,
--senyumnajong—
Hampir 2 minggu yang lalu postingan terakhirmu.
Dari judulnya aku mikir blogmu mungkin aja bisa jadi lebih go-blog dari milikku. Aku pikir ini tentang alat tulis ato tips konyol mengenai cara pemakaiannya yang baik dan benar.
Ternyata bukan.
Analogi ya?
Lumayan
Dan membacanya akan membuatku semakin yakin kalo julukan ‘galau’ yang sering kao timpakan padaku itu lebih cocok buatmu! Hahaaha...
*pikir lagi sebelum berkeputusan dengan gayaku. Pikir lagi! Tanpa sadar gayamu adalah gayaku. Hahaa*
Mencermati kalimat demi kalimat kegalauanmu ini.
Ini tentang menulis dan menghapus seseorang.
Masalalumu?
Kenapa?
--sumpeh aku gak nangis waktu ngebacanya!! -- beneran deh --
Nyoba nyimpulin postinganmu yang melodramaticfool itu.
Terjebak cintamasalalu?
Ckckck. Tragis!
Kenapa?
Kenapa?
Kenapa?
*tampar! Banyak nanya!*
Cuma kamu yang tau jawabannya.
Pikiranku melayang. Tapi ku balikin lagi sebelom ditangkep cicak. Sungguh pun gak ada rasa nyesel dalam diriku karna udah suka sama kamu. Banyak hal n kisah yang udah kulewati yang mendewasakan hatiku.
--perasaan mirip lagunya glennfredly yee?!hehee--
Dan mungkin kamu lagi ada di titik itu.
Huuffftt!
--menghela napas panjang--
--mencari tali buat gantungdiri. Oh no!!—
Aku harap kamu bisa nglewatin titik itu.
Pasti bisa!!
Bakalan kayak gmn pun nantinya, aku berdoa yang terbaek buatmu.
Kamu gak harus menghapusnya kalo emang kamu gak bisa. Apalagi kalo kamu udah menuliskannya setebel buku biology campbell ato biotek pakdekan.
--bahan ujian kita beso—buseedd aku blom belajar!—hasshh backtothetopic!—
Kamu bakalan capek sendiri kalo kamu ngotot menghapusnya.
Bacalah sekali lagi apa yang udah kamu tulis itu.
Tersenyum dan bersyukurlah.
Lalu, tutup rapat dan simpan buku itu di tempat yang kao anggap layak. Suatu saat kamu perlu untuk membacanya lagi. Mungkin bisa jadi referensi buat tinjauan pustakamu.
--kayak bikin laporan aje pake tinjauan pustaka. Hahaa—
Gak perlu kamu pertebal tulisanmu itu kalo kamu lelah meruncingkan pensilmu. Gak adakah dalam pikiranmu buat nyoba menulis di lembaran buku yang baru?
Bukan dengan pensil, tapi dengan pena yang gak mungkin bisa dihapus dengan karetpenghapus yang kao punya itu.
--jangan bilang kamu juga punya tip.ex!!—
Dan aku membusuk di antara tumpukan buku2 kosong ini.
Oh pliisss.
Aku gak mau menggalau di saat2 seperti ini.
Minum secangkir susu kedelai mungkin bisa bikin sdikit relax *masaaasiiihhh??*
“hooeekzz..”
Pait!!
--blom dikasi gula!—
Hm...sepahit kenyataan yang ada. Both you n me.
Ku kutip kalimat dalam postingan blogmu yang lampau.
“the worst feeling is when someone makes you feel special, then suddenly leaves you hanging, and you have to act like you don’t care at all”
Tidakkah itu terlalu menohokku? Ataukah aku ini hanya terlalu percaya diri? Who cares?!hahaaaa
Toh aku tetep aja suka sama kamu-yang-naek-motor-matic-agnesmonica-lewat-depan-kosanku-tiap-pagi-berangkat-ke-kampus------sk.
Merampungkan laporan laknat yang mustinya kelar semalem tapi terhambat karna tiap kali beradu mata dengan monitor, tangan ini gak tahan buat buka myfavefile E:\eska_doc2\pictures\.....
--foto kita berdua—
Dan saat ini kembali kulakukan.
Itu adalah pertama kali dan satu2nya potoku sama kamu, hasil jepretan kakak tingkat kita. *pengennya frontal aku pasang disini tapi gak aaahhh.hahaaa*
Nothing’s special. Dulu!
Sekarang?huuuhhh...*specialpaketelorbadak!*
Dan mataku mulae memperhatikan poto itu dengan seksama. Ku liat tubuhmu dari atas ke bawah balik ke atas lagi. Ku zoom in wajahmu, ku zoom out, zoom in lagi.
--kayak gitu terus sambil garuk2 kepala n ketek...hiihhii jijik—
Tapi tetep aja aku gak tau bagian mana dari tubuhmu yang bikin aku suka sama kamu.
Yang ada, rambut kucel jadulmu itu bikin tampangmu jadi kayak om2. lucu! Heheeee.. blom lagi kemeja biru muda dan celana panjang warna krem yang kamu pake itu, ngebuat aku pengen bilang “kao pasti bercanda?!” sambil bergaya alay.
Dan sepatu coklat? Hm...it’s a big NO!
Entah apa yang kmu pikirin waktu itu sampe2 milih pakaian sekenanya di saat kamu akan berbicara n tampil di depan banyak orang (penting).
Apalagi berpoto denganku.
--kita bener2 gak matching di poto itu.hahaa—
Tapiii..
Kenapa aku suka sama kamu?
Jari2ku mulae gatel membuka postinganku sebelumnya. Cuma 1 temen yang komen. Tapi aku tau yang baca gak hanya 1 orang ini.
--aku harap kamu salah satunya—
Bosan..
Nyoba ngintip blogmu.
Aku search di google. Eh lupa blogmu apaan!
Terpaksa buka fb dulu.
Nah,
--senyumnajong—
Hampir 2 minggu yang lalu postingan terakhirmu.
Dari judulnya aku mikir blogmu mungkin aja bisa jadi lebih go-blog dari milikku. Aku pikir ini tentang alat tulis ato tips konyol mengenai cara pemakaiannya yang baik dan benar.
Ternyata bukan.
Analogi ya?
Lumayan
Dan membacanya akan membuatku semakin yakin kalo julukan ‘galau’ yang sering kao timpakan padaku itu lebih cocok buatmu! Hahaaha...
*pikir lagi sebelum berkeputusan dengan gayaku. Pikir lagi! Tanpa sadar gayamu adalah gayaku. Hahaa*
Mencermati kalimat demi kalimat kegalauanmu ini.
Ini tentang menulis dan menghapus seseorang.
Masalalumu?
Kenapa?
--sumpeh aku gak nangis waktu ngebacanya!! -- beneran deh --
Nyoba nyimpulin postinganmu yang melodramaticfool itu.
Terjebak cintamasalalu?
Ckckck. Tragis!
Kenapa?
Kenapa?
Kenapa?
*tampar! Banyak nanya!*
Cuma kamu yang tau jawabannya.
Pikiranku melayang. Tapi ku balikin lagi sebelom ditangkep cicak. Sungguh pun gak ada rasa nyesel dalam diriku karna udah suka sama kamu. Banyak hal n kisah yang udah kulewati yang mendewasakan hatiku.
--perasaan mirip lagunya glennfredly yee?!hehee--
Dan mungkin kamu lagi ada di titik itu.
Huuffftt!
--menghela napas panjang--
--mencari tali buat gantungdiri. Oh no!!—
Aku harap kamu bisa nglewatin titik itu.
Pasti bisa!!
Bakalan kayak gmn pun nantinya, aku berdoa yang terbaek buatmu.
Kamu gak harus menghapusnya kalo emang kamu gak bisa. Apalagi kalo kamu udah menuliskannya setebel buku biology campbell ato biotek pakdekan.
--bahan ujian kita beso—buseedd aku blom belajar!—hasshh backtothetopic!—
Kamu bakalan capek sendiri kalo kamu ngotot menghapusnya.
Bacalah sekali lagi apa yang udah kamu tulis itu.
Tersenyum dan bersyukurlah.
Lalu, tutup rapat dan simpan buku itu di tempat yang kao anggap layak. Suatu saat kamu perlu untuk membacanya lagi. Mungkin bisa jadi referensi buat tinjauan pustakamu.
--kayak bikin laporan aje pake tinjauan pustaka. Hahaa—
Gak perlu kamu pertebal tulisanmu itu kalo kamu lelah meruncingkan pensilmu. Gak adakah dalam pikiranmu buat nyoba menulis di lembaran buku yang baru?
Bukan dengan pensil, tapi dengan pena yang gak mungkin bisa dihapus dengan karetpenghapus yang kao punya itu.
--jangan bilang kamu juga punya tip.ex!!—
Dan aku membusuk di antara tumpukan buku2 kosong ini.
Oh pliisss.
Aku gak mau menggalau di saat2 seperti ini.
Minum secangkir susu kedelai mungkin bisa bikin sdikit relax *masaaasiiihhh??*
“hooeekzz..”
Pait!!
--blom dikasi gula!—
Hm...sepahit kenyataan yang ada. Both you n me.
Ku kutip kalimat dalam postingan blogmu yang lampau.
“the worst feeling is when someone makes you feel special, then suddenly leaves you hanging, and you have to act like you don’t care at all”
Tidakkah itu terlalu menohokku? Ataukah aku ini hanya terlalu percaya diri? Who cares?!hahaaaa
Toh aku tetep aja suka sama kamu-yang-naek-motor-matic-agnesmonica-lewat-depan-kosanku-tiap-pagi-berangkat-ke-kampus------sk.
Selasa, 29 Maret 2011
Romansa Cinta -Ojek Galau-
“Ujannya aneh tauk..!”
Kalimat itu masih aja aku inget sampai saat ini. Selaen karna kmaren kamu ngomong kayak gitu berulang-ulang, aku juga gak bosen2 dengerin n nanggepin komenmu tentang ujan yg aneh di merapi waktu itu...
Kalo aja kamu tau tampangku seharian itu jauh lebih aneh. Berada di balik badanmu, di depan punggungmu, menikmati ujan yang kau bilang ‘aneh’, cuma bisa bikin aku nahan senyum dan ketawa dalam waktu yang sama...
Hahahaaa....
Pasti satu kata favoritmu akan muncul, “galau!!”
Dan ternyata gak nyampe situ...
Well, ke greja bareng!
Gak cuman kita berdua sih, berempat!
Oke gapapalah...itung2 dua orang laennya jadi tokoh figuran dalam critaku...hehee
“aku nebeng lagi ye?!ojek sehari...hehee”, pesanku untuknya.
“ojek galau”, balasnya singkat.
Dan dengan ajaib...
Motor matic yang bintang iklannya agnes monica itu berhenti di depan gerbang biru, kosku...
“yang laen mana?”, tanyaku. Berharap jawaban yang ku tunggu2 beneran terjadi.
“ntar mreka mau ke greja laen”,jawabnya.
---tuh kan beneran,hahaa—
---omaighooossshh?!jadi kita cuman berdua aja?!#lebay---
---mencoba mengontrol diri---
Selama ibadah itu aku sering gak tahan ngeliat keautisanmu.
Lucu...aneh....gak jelas....!!hahaaa
Yang pasti, orang di sebelahku agak terganggu sama tingkahmu. Jadi kugerakkan badanku sedikit maju ke depan biar orang di sebelahku gak ngeliat ke arahmu nyampe kamu sadar dan jadi ngrasa gak enak hati karna udah ganggu penglihatan orang laen...wkwkwk
Aku gak ngerti kenapa kamu gak bawa Alkitab ke greja. Kamu cuma bilang “kalo ada yang bawa kenapa musti bawa lagi?!”. Tapi aku suka saat kita harus baca pada satu Alkitab yang sama.
Kita gak banyak omong waktu itu. Mungkin karna kita mulai bicara dari hati ke hati. PREKETEK!!
Paling2 kamu ngomentari paduan suara yang isinya orang2 tua kayak dosen2 kita....hahaa dasar mahasiswa kurang ajar!!
Satu setengah jam itu rasanya cepet banget...
Dan lagi2 aku musti terjebak di depan punggungmu...
Kemeja kotak2 itu gak bakal aku lupa. Entah karna mirip taplak meja atau emang warna merahnya sangat cocok denganmu...
Dalam setiap sepersekian detik waktu itu, aku terus berharap momen kecil ini gak berakhir...
---pliss..bawa aku pergi, kemana aja,,ajak makan kek! Jangan nyampe kosan dulu dong!---
Dan hanya mengantarku kembali ke depan gerbang biru itu adalah keputusanmu...
“makasi ya jek, tukang ojek!hehee”, kataku.
Kalimat terakhirnya waktu itu, “selamat mengerjakan laporan”
Kamu senyum.
Aku bales senyum.
Pasti senyumku waktu itu menjijaykan sekali.
Huuhh..mustinya aku bawa cermin waktu itu biar bisa ngasih kamu senyum termanisku.
Hahahaaa....*lempar sandal*
Dan siang hari setelah hari itu menjadi bukti gimana kamu bener2 sukses mengacaukan pikiranku.
Selaen karna kamu duduk terpisah hanya satu bangku di samping kananku, aku juga ngeliatin kamu dari jembatan lantai3. Tau kan? hahaa
Kamu duduk di bawah sana, membelakangiku.
---lagi2 liat punggungmu---
Lalu entah karna kamu sadar kalo aku lagi ngeliatin kamu atau apa, kamu berpindah duduk menghadapku.
Aku malah gak bisa ngeliat kamu bego!
---ketutup po’on gitu---
Menit2 kegalauan itu berakhir saat kamu beranjak dan aku sadar kalo aku LUPA GAK BAWA JAS LAB BUAT PRAKTIKUM YANG TINGGAL 5MENIT MULAI!!!
Aku akui kamu bener2 hebat!
Kamu bahkan gak perlu susah2 mendobrak atau mengetuk pintu dan menunggu.
Aku udah ngeliat kamu dari jauh dan membuka pintu sesaat sebelum kamu nyampe di depannya.
Nah, lo kapan mau masuk??!!
Hahahaaa...
---kalo aja secara luar biasa kamu terjebak di blog yang goblog ini,,aku masih blom tau musti gmn---
---orang2 mencintai secara 'diam2', tapi aku gak bisa---banyak yang yang laen mencintai dengan 'suara lantang', tapi aku gak bisa---aku mencintaimu secara 'bisik2' dan berharap kamu denger, kalo gak mau denger mending kamu tutup kuping sekalian deh terus pergi jauh!!---sk.
Kalimat itu masih aja aku inget sampai saat ini. Selaen karna kmaren kamu ngomong kayak gitu berulang-ulang, aku juga gak bosen2 dengerin n nanggepin komenmu tentang ujan yg aneh di merapi waktu itu...
Kalo aja kamu tau tampangku seharian itu jauh lebih aneh. Berada di balik badanmu, di depan punggungmu, menikmati ujan yang kau bilang ‘aneh’, cuma bisa bikin aku nahan senyum dan ketawa dalam waktu yang sama...
Hahahaaa....
Pasti satu kata favoritmu akan muncul, “galau!!”
Dan ternyata gak nyampe situ...
Well, ke greja bareng!
Gak cuman kita berdua sih, berempat!
Oke gapapalah...itung2 dua orang laennya jadi tokoh figuran dalam critaku...hehee
“aku nebeng lagi ye?!ojek sehari...hehee”, pesanku untuknya.
“ojek galau”, balasnya singkat.
Dan dengan ajaib...
Motor matic yang bintang iklannya agnes monica itu berhenti di depan gerbang biru, kosku...
“yang laen mana?”, tanyaku. Berharap jawaban yang ku tunggu2 beneran terjadi.
“ntar mreka mau ke greja laen”,jawabnya.
---tuh kan beneran,hahaa—
---omaighooossshh?!jadi kita cuman berdua aja?!#lebay---
---mencoba mengontrol diri---
Selama ibadah itu aku sering gak tahan ngeliat keautisanmu.
Lucu...aneh....gak jelas....!!hahaaa
Yang pasti, orang di sebelahku agak terganggu sama tingkahmu. Jadi kugerakkan badanku sedikit maju ke depan biar orang di sebelahku gak ngeliat ke arahmu nyampe kamu sadar dan jadi ngrasa gak enak hati karna udah ganggu penglihatan orang laen...wkwkwk
Aku gak ngerti kenapa kamu gak bawa Alkitab ke greja. Kamu cuma bilang “kalo ada yang bawa kenapa musti bawa lagi?!”. Tapi aku suka saat kita harus baca pada satu Alkitab yang sama.
Kita gak banyak omong waktu itu. Mungkin karna kita mulai bicara dari hati ke hati. PREKETEK!!
Paling2 kamu ngomentari paduan suara yang isinya orang2 tua kayak dosen2 kita....hahaa dasar mahasiswa kurang ajar!!
Satu setengah jam itu rasanya cepet banget...
Dan lagi2 aku musti terjebak di depan punggungmu...
Kemeja kotak2 itu gak bakal aku lupa. Entah karna mirip taplak meja atau emang warna merahnya sangat cocok denganmu...
Dalam setiap sepersekian detik waktu itu, aku terus berharap momen kecil ini gak berakhir...
---pliss..bawa aku pergi, kemana aja,,ajak makan kek! Jangan nyampe kosan dulu dong!---
Dan hanya mengantarku kembali ke depan gerbang biru itu adalah keputusanmu...
“makasi ya jek, tukang ojek!hehee”, kataku.
Kalimat terakhirnya waktu itu, “selamat mengerjakan laporan”
Kamu senyum.
Aku bales senyum.
Pasti senyumku waktu itu menjijaykan sekali.
Huuhh..mustinya aku bawa cermin waktu itu biar bisa ngasih kamu senyum termanisku.
Hahahaaa....*lempar sandal*
Dan siang hari setelah hari itu menjadi bukti gimana kamu bener2 sukses mengacaukan pikiranku.
Selaen karna kamu duduk terpisah hanya satu bangku di samping kananku, aku juga ngeliatin kamu dari jembatan lantai3. Tau kan? hahaa
Kamu duduk di bawah sana, membelakangiku.
---lagi2 liat punggungmu---
Lalu entah karna kamu sadar kalo aku lagi ngeliatin kamu atau apa, kamu berpindah duduk menghadapku.
Aku malah gak bisa ngeliat kamu bego!
---ketutup po’on gitu---
Menit2 kegalauan itu berakhir saat kamu beranjak dan aku sadar kalo aku LUPA GAK BAWA JAS LAB BUAT PRAKTIKUM YANG TINGGAL 5MENIT MULAI!!!
Aku akui kamu bener2 hebat!
Kamu bahkan gak perlu susah2 mendobrak atau mengetuk pintu dan menunggu.
Aku udah ngeliat kamu dari jauh dan membuka pintu sesaat sebelum kamu nyampe di depannya.
Nah, lo kapan mau masuk??!!
Hahahaaa...
---kalo aja secara luar biasa kamu terjebak di blog yang goblog ini,,aku masih blom tau musti gmn---
---orang2 mencintai secara 'diam2', tapi aku gak bisa---banyak yang yang laen mencintai dengan 'suara lantang', tapi aku gak bisa---aku mencintaimu secara 'bisik2' dan berharap kamu denger, kalo gak mau denger mending kamu tutup kuping sekalian deh terus pergi jauh!!---sk.
Senin, 14 Februari 2011
Desperation
It’s a common to you for knowing that my heart is like a traffic light which gives you the green one. However, you just pass me by running to somewhere, take the wrong path away from me.
It doesn’t matter if you do not care with the feeling. I’ll keep it inside as much as time I spend for waiting you to stop denial of it.
I was just wondering if you could stay here longer, but you couldn’t.
Now, tell me the truth!
So it can help me survive without hope of being yours.
It doesn’t matter if you do not care with the feeling. I’ll keep it inside as much as time I spend for waiting you to stop denial of it.
I was just wondering if you could stay here longer, but you couldn’t.
Now, tell me the truth!
So it can help me survive without hope of being yours.
Langganan:
Postingan (Atom)