Selasa, 24 Mei 2011

Fatamorgana!

Ada sesuatu yang membuatku sesak napas. Bukan udara. Bukan debu. Tapi hal lain yang jauh lebih sulit untuk diraba. Hal-hal yang terjadi kurang dari 24 jam ini. Aurora yang seketika datang dalam penglihatanku dan warna-warni, lebih nampak seperti abu-abu yang selalu saja tidak begitu jelas.


Aku kuliah seperti biasa. Mengantuk seperti biasa. Mengobrol di dalam kelas dan itu masih seperti biasa. Yang berbeda hanya bagian presentasi dalam kuliah Teknologi Benihku. Hm… sepertinya itu juga biasa aja. Dan seperti biasa aku masih terlalu takut terlihat akrab denganmu di dalam kelas, jadi aku masih berusaha untuk menahan diri, tidak menyapamu. Tidak tersenyum padamu. Tidak menanyakan hal-hal bodoh. Tidak mencari cara, apapun itu untuk mendapat perhatianmu. Tidak dan tidak akan. Tidak hari ini dan tidak tau sampai kapan. Tidak!

***

Aku selalu dan hampir terlalu sering memutuskan untuk tidak menyukai tugas-tugas kuliah. Terlebih tugas kelompok! Bukannya aku terlalu yakin dan percaya diri untuk bisa ngerjain tugas-tugas individu atau tidak suka kerjasama dalam kelompok. Aku suka kerjasama dan aku suka kelompokku saat ini. Beberapa!

Orang-orang ini bukan orang-orang yang menyebalkan. Oke,beberapa emang nyebelin. Tapi itu hanya karna mereka terlalu akrab denganku. Merasa berhak untuk berperilaku menyebalkan terhadapku. Tetap saja aku akan terus dan selalu menerima perlakuan mereka. Hanya karna mereka akan selalu melegitimasikan apapun tindakan mereka terhadapku. Dan aku selalu menjadi minoritas yang kalah dalam voting. Ini gak adil!

Tertawa. Bercerita. Berkhayal dan berangan-angan tentang masa depan. Ini ngerjain tugas atau ngapain sih? Dan tersadar kalo kami adalah sekumpulan jiwa-jiwa yang terlempar dari tempat yang sama. Pantas saja. Atmosfer terasa berbeda saat harus ada bersama mereka. Selalu ada sesuatu yang menggelitik kami untuk tidak hanya saling diam terpaku. Dan sekecil apapun itu selalu bisa membuat kami bercakap-cakap terlalu banyak. Terlalu pribadi. Terlalu intim.

Menjadi tidak menyenangkan kalo hal-hal pribadiku yang menjadi bahan obrolan. Benar saja. Mereka ungkap satu persatu. Aku mati kutu. Bertanya-tanya bagaimana mereka bisa tau. Begitu banyak. Terlau banyak hal tentangku. Dan juga tentangmu?! Ini gila. Mereka gila. Aku juga. Sejenak terpikir olehku untuk mengumpulkan mereka dalam satu lubang pembuangan, lalu dengan senyum kemenangan kutekan tombol ‘splash’ dan walaaaa lenyaplah mereka! Sempurna. Nikmatilah privasiku sampai puas. Sampai aku gak bisa punya sedikit saja rahasia. Gak masalah buatku, mungkin sudah terbiasa. Akan terbiasa walo sebenernya gak mau.


Baiklah. Baiklah. Aku mungkin akan bersikap acuh tak acuh dengan itu semua. Tapi seorang temanku mungkin tidak berkeputusan untuk mengambil sikap yang sama denganku saat menghadapi masalahnya. Mungkin gak cocok dibilang masalah. Hambatan!

menurutmu apa sih yang beda dari aku setelah aku ada di posisi ini?” Pertanyaan yang menyentakku, meski realitanya aku masih saja berbaring di lantai Sekretariat Bersama waktu itu. Aku memandang langit-langit yang putih. Berharap menemukan kata-kata tepat di sana untuk menjawab pertanyaan yang sebenarnya sangat sederhana itu. Dia kelihatan tidak stabil, tapi berusaha untuk itu. Begitu juga aku. Kata-kata yang keluar dari mulutku nanti, jangan sampai membuatnya sakit hati.

apa ya? Aku sih gak ngerasa ada perubahan yang gimana banget dari kamu”. Aku berusaha senetral mungkin. Tapi aku jujur.

bilang aja gakpapa. Jangan ngerasa gak enak karna kamu udah kenal aku dari awal kita di sini”. Apa yang musti ku bilang? Kenyataannya aku yang salah karna terlalu tidak peduli dengan perubahan seseorang yang cukup lama ku kenal. Bahkan perubahan kecil? Aku menyesal.

oke. Mungkin bukan aku yang ngerasa kayak gitu. Yang aku tau dan aku denger, orang lain ngerasa gitu”. Berbicara sedatar mungkin. Tanpa penekanan kata apapun. Mungkin saja dia sudah cukup tertekan mendengar kata-kataku. Dia duduk membelakangiku. Menatap layar televisi sambil mengganti channel berkali-kali. Penuh keresahan. Aku yakin konsentrasinya bukan pada apa yang dia lihat, tapi pada apa yang baru saja dia dengar. Pandanganku bahkan gak mampu meraih ekspresi wajahnya waktu itu. Warna apa yang terpancar, aku gak tau!

Tetap dengan posisi seperti itu. Dia bercerita dari A sampai Z. Mungkin melewatkan sedikit bagian J sampai K. Tapi yang ku dengar, dia udah cerita sangat banyak. Lengkap dan sempurna. Dan aku --masih dengan gaya sunbathing-- sembari sesekali menendangi lemari besar di depanku, hanya bisa menanggapi dengan kalimat yang paling sederhana. Aku cuma gak pengen dia menangkap makna yang salah. Dan membuatku menyesal udah menjawab pertanyaannya dan mengatakan banyak hal yang ingin diketahuinya. Oleh karnanya, aku sangat berhati-hati terhadap hati temanku ini.

emang aku yang salah. Gak akan selesai kalo terus nyalahin orang lain kan? Biar, aku aja yang salah!”. Dia berkesimpulan seperti itu. Seakan tidak ingin meneruskan percakapan lebih lama lagi. Atau membuatnya merasa bertanggung jawab kalo saja aku mulai muak dengan perbincangan yang sudah dimulainya sejak beberapa menit yang lalu itu. Tidak, kamu tidak salah, teman! Mungkin udara yang salah, membuat suasana terlalu dingin. Atau sinar matahari yang salah, menyengat terlalu banyak hati. Bisa juga angin, merobohkan batin yang dulunya begitu kuat berdiri. Tapi bukankah kita masih punya embun, teman? Setetes saja sudah cukup memberi kita kesegaran dan bahkan kekuatan berkalikali lipat untuk bisa menengadahkan kepala, tidak terlalu tinggi. Tapi untuk menatap sekeliling. Bukan sekedar garis lurus di sana, tapi juga lekukan, spiral, bahkan yang bisa kita sebut ‘abstrak’. Jangan bayangkan sebuah homogenitas di sana! Itu gak pernah ada. Fatamorgana. Dan ingat juga kalo kita masih punya gerimis yang membawa segala romantisme, juga kerlap-kerlip yang biasa kita pancarkan dari kedua mata kita. Don’t worry, u’re gonna make this right again!


Dan hembusan angin malam sudah sangat cukup untuk menemaniku pulang dan segera menuliskan semua ini. Pukul setengah sebelas malam waktu itu tidak seperti biasanya. Aku berpikir terlalu keras, atau sebenarnya aku tidak berpikir apapun waktu itu? Kucuri sedikit waktuku walo sebenarnya aku memiliki hak sepenuhnya atas waktuku. Menatap Orion di langit selatan. Seakan sedang menertawakanku dan berkata dengan angkuh “Seberapa yakin kau akan selalu muncul di selatan? Tidakkah utara begitu menggoda?” Dan aku yakin itu retoris. Sial! Sinarnya begitu sombong berpendar di segala penjuru. Dan hei langit, ku pastikan kau akan menyesal sudah berkonspirasi dengannya malam ini.

Teruntuk sahabat, orion, dan langit malam_23.05.11

Tidak ada komentar:

Posting Komentar